Thursday, July 2, 2009

Ngemil Gak bikin gemuk

Produk camilan kian membanjiri pasar. Pilihannya pun semakin beragam. Dari yang berbasis tepung terigu, tepung kedelai, cokelat, teh hijau, buah, hingga kacang-kacangan. Jangan keliru, pilih yang mengandung nilai gizi.

Siapa yang tidak suka ngemil. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa semua menyukai makanan ringan (snack). Tak heran bila produk-produk snack banyak bermunculan di pasar. Menurut data, Indonesia berada di peringkat ketiga setelah Jepang dan China dalam perkembangan pasar snack berdasarkan volumenya.

Menjawab kebutuhan masyarakat untuk memerhatikan kesehatan (antara lain dengan mengurangi asupan lemak dan gula), saat ini marak tawaran jenis camilan yang memproklamirkan diri sebagai camilan sehat. Menurut keterangan pada kemasannya, camilan sehat tersebut mengandung vitamin, kaya akan protein, dan serat pangan.

Menurut pengamatan Prof Dr Made Astawan, ahli teknologi pangan dan gizi dari Institut Pertanian, Bogor, camilan yang banyak beredar di pasaran saat ini masih didominasi oleh makanan yang padat kalori dan kandungan MSG yang tinggi. Padahal, menyantap makanan yang berkualitas tinggi, termasuk camilan, adalah salah satu ciri gaya hidup sehat.

Salah satu indikasi pangan sehat, menurut Made, adalah kandungan indeks glisemik yang rendah. Indeks glisemik (IG) merupakan istilah yang relatif baru dalam bidang pangan, berkaitan erat dengan metabolisme karbohidrat.

IG merupakan indikator cepat atau lambatnya unsur karbohidrat berdasarkan kemampuannya menaikkan kadar gula darah tubuh setelah dikonsumsi. Bahan pangan dengan IG rendah lebih aman untuk penderita diabetes dan kegemukan.

Pangan IG rendah akan dicerna dan diubah menjadi glukosa secara bertahap dan perlahan-lahan, sehingga puncak kadar gula darah juga akan rendah. Hal ini sangat penting bagi diabetesi (pasien diabetes) dalam mengendalikan gula darah. Selain itu, mengonsumsi pangan dengan IG rendah membuat perut tidak cepat lapar.

Makanan dengan IG tinggi, menurut Made, bukan berarti sama sekali tidak berguna. Orang yang berbuka puasa atau atlet yang hendak bertanding memerlukan pangan IG tinggi agar makanan yang dikonsumsi segera dikonversi menjadi energi, paparnya.

Camilan dengan IG rendah
Baru-baru ini dipublikasikan hasil penelitian mengenai IG yang bertajuk Uji Indeks Glikemik Berbagai Makanan Ringan yang Beredar di Indonesia oleh Made dan rekan-rekan. Ini merupakan penelitian yang pertama di Indonesia.

Dalam penelitiannya, bahan pangan dikelompokkan menjadi tiga, yakni pangan dengan IG rendah (kurang dari 55), sedang (antara 55-70), dan IG tinggi (lebih dari 70) berdasarkan skala 0-100. Bahan pangan yang dengan cepat menaikkan kadar gula darah sesaat setelah dikonsumsi berati memiliki nilai IG tinggi.

Dari empat jenis camilan yang diuji, yakni wafer cokelat, biskuit, cokelat batangan, dan camilan fruit soy bar (tepung kedelai dan buah kering), diketahui cokelat batangan dan fruit soy bar memiliki kadar IG yang rendah, yakni 42 dan 25. Sedangkan biskuit memiliki kadar IG tinggi (62), demikian juga dengan keripik kentang (70).

Meski begitu, cokelat juga mengandung kadar lemak dan gula yang tinggi. Sebaliknya dengan fruit soy bar yang kandungan gulanya rendah tetapi kaya akan serat dan protein nabati.

"Selain kadar IG, sebaiknya perhatikan juga komposisi pendukung suatu produk. Ketahui pula kalori, gula dan kadar lemaknya," ujar Made. Karena, beberapa jenis camilan yang memiliki kadar IG rendah pada umumnya mengandung gula yang tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Informasi IG sangat bermanfaat untuk pasien diabetes maupun mereka yang sedang menjaga berat badannya. Namun, belum banyak produk yang menyertakan kadar IG dalam komposisi bahan dalam kemasan. "Di beberapa negara, misalnya Jepang dan Australia, sudah ada logo yang menyatakan kadar IG suatu bahan makanan," kata Made.
kompas.com

No comments:

Post a Comment

Post a Comment